Kolaborasi Seniman Nusantara–Singapura

SDGs4, 8, 9 dan 17
Started15.45 WIB Wednesday, April 22, 2026
Ended17.15 WIB wednesday, April 22, 2026
Number of participants±40 People
Program Studi yang terlibatPSP, Departemen Sejarah
Service Hours3 Hours
BeneficiariesSanggar Asmaradana Singapura
Location85 Sultan Gate, Singapura 198501
CollaboratorThe malay Heritage Foundation
Impact ScaleInternational

Kolaborasi Seniman Nusantara–Singapura Perkuat Pendidikan Seni dan Jejaring Global dalam Nusantara Arts Showcase 2026 Berbasis SDGs

Kegiatan “Latihan Bersama dengan Seniman Singapura” dalam rangka Nusantara Arts Showcase 2026 diselenggarakan oleh Malay Heritage Foundation pada 22 April 2026 di Sanggar Asmaradana Singapura. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Wida Rahayuningtyas sebagai narasumber utama dan turut diikuti oleh Aditya Nugroho Widadi, dosen Departemen Sejarah, serta menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan pendidikan, pembelajaran sepanjang hayat, dan kerja sama internasional yang sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan akan pendidikan inklusif di bidang seni pertunjukan yang tidak hanya berfokus pada aspek artistik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan yang relevan dengan industri kreatif. Melalui kemitraan pendidikan lintas disiplin, termasuk keterlibatan akademisi dari bidang sejarah, pelatihan ini diharapkan dapat membuka akses pembelajaran yang lebih luas sekaligus memperkuat jejaring profesional sebagai bagian dari strategi peningkatan ketenagakerjaan pemuda di sektor seni, sejalan dengan prinsip SDG 4 dan SDG 8.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan sesi pengenalan budaya dan praktik seni pertunjukan tradisional yang menjadi bagian dari identitas kawasan Asia Tenggara. Kehadiran Aditya Nugroho Widadi salah satu dosen Departemen Sejarah UM turut memperkaya perspektif historis dalam memahami konteks perkembangan seni pertunjukan di Nusantara dan kawasan regional. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi pelatihan intensif yang dipandu langsung oleh Dr. Wida Rahayuningtyas, yang menekankan pentingnya inovasi dalam pengembangan karya seni berbasis tradisi. Pendekatan ini juga mencerminkan semangat SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui integrasi penelitian dan pengembangan dalam praktik seni.

Dr. Wida Rahayuningtyas dalam paparannya menegaskan bahwa kolaborasi lintas budaya merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing pelaku seni di tingkat global. “Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga wadah untuk membangun jejaring dan menciptakan peluang kerja yang berkelanjutan bagi seniman muda,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan relevansi kegiatan dengan SDG 8 dalam menciptakan lapangan kerja lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Selain itu, kegiatan ini juga menekankan pentingnya inklusi sosial dan kesetaraan akses dalam dunia seni pertunjukan. Peserta yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, sehingga pelatihan ini menjadi ruang yang mendorong keberagaman dan keadilan sosial. Hal ini sejalan dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) yang mengedepankan inklusi sosial serta kesempatan setara dalam memperoleh akses pendidikan dan pelatihan.

Dalam konteks keberlanjutan, pelatihan ini juga mengintegrasikan praktik ramah lingkungan dalam proses produksi seni, seperti penggunaan material yang berkelanjutan dan pengurangan limbah produksi. Pendekatan ini mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya konservasi sumber daya dan edukasi perubahan iklim di kalangan pelaku seni.

Kegiatan ini memberikan dampak signifikan bagi peserta, terutama dalam meningkatkan kompetensi artistik, memperluas wawasan budaya, serta membuka peluang kolaborasi internasional. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap penguatan komunitas seni sebagai bagian dari pembangunan komunitas berkelanjutan, sesuai dengan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan). Peserta diharapkan mampu mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dalam konteks lokal masing-masing.

Malay Heritage Foundation sebagai penyelenggara menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan program serupa di masa mendatang. Kolaborasi ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat hubungan antarnegara sekaligus mendukung pengembangan sektor seni sebagai bagian dari ekonomi kreatif global yang inklusif dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelatihan, tetapi juga platform kolaborasi yang mengintegrasikan pendidikan, inovasi, dan kemitraan global. Ke depan, diharapkan program serupa dapat terus dikembangkan untuk memperluas dampak positif bagi masyarakat seni dan mendukung pencapaian berbagai target SDGs secara berkelanjutan.

窗体顶端

窗体底端